Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2011


[postlink]https://menthorzain.blogspot.com/2011/11/jadwal-grebeg-suro-2011.html[/postlink]Inilah salah satu festival yang patut Anda saksikan di Ponorogo, Jawa Timur. Sebuah festival yang tiap tahun digelar dan telah menjadi pesta rakyat Ponorogo. Grebeg Suro Ponorogo akan berlangsung di Ponorogo pada 20-27 November 2011. Grebeg Suro ini digelar oleh masyarakat Ponorogo untuk menyambut bulan Suro atau bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Suro. Saat itu masyarakat Ponorogo mengadakan tirakatan semalam suntuk dengan mengelilingi kota dan berhenti di Alun-Alun Ponorogo

Grebeg Suro Ponorogo merupakan acara tradisi kultural masyarakat Ponorogo dalam wujud pesta rakyat. Seni dan tradisi yang ditampilkan meliputi Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, dan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.

Anda akan menyaksikan prosesi penyerahan pusaka ke makam bupati pertama Ponorogo. Kemudian disusul pawai ratusan orang menuju pusat kota dengan menunggang bendi dan kuda yang dihiasi. Berikutnya akan ada Festival Reog Nasional di alun-alun kota. Saat itu puluhan grup reyog di Jawa Timur bahkan dari Kutai Kartanagara, Jawa Tengah, Balikpapan, dan Lampung akan turut tampil memeriahkan acara meriah ini.

Grebeg Suro Ponorogo sudah belasan tahun dilaksanakan karena dinilai memiliki nilai kearifan lokal meliputi nilai simbolik, nilai tanggung jawab, nilai keindahan, nilai moral, nilai hiburan, nilai budaya, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai apresiasi, dan nilai religius. Dengan nilai-nilai luhur yang terkandung tersebut maka wajarlah Grebeg Suro Ponorogo selalu dipertahankan hingga sekarang oleh masyarakat Ponorogo.

Beriku ini Jadwal Acara Grebeg Suro Ponorogo 2011 :

9/11/11

* 07.00 Tari Masal SI POTRO (aloon-aloon)
* 19.30 Istighozah (Pendopo Agung)

14/11/11

* 08.00 Uji Talenta Kakang Senduk (Pendopo Agung)

15-16/11/11

* 08.00 Festival Karawitan (Pendopo Agung)

18-26/11/11

* 08.00 Pameran Bonsai (Terminal Lama)
* 08.00 Pameran Industri Kecil dan Produk Unggulan (Gedung Sasana Praja)
* 08.00 Pameran Adenium (Halaman GOR)
* 08.00 Pameran Lukisan (Gedung Sasana Praja)
* 08.00 Pameran Tanaman Hias (Halaman Gedung Sasana Praja)
* 08.00 Pameran Photography (Gedung Sasana Praja)

18/11/11

* 19.00 Grand Final Kakang Senduk (Gedung Watu Dakon)

19-20/11/11

* 13.00 Lomba Pacuan Kuda (Stadion Batoro Katong)

21/11/11

* 08.00 Pembukaan Pameran Pusaka (Pendopo Agung)
* 08.00 Pembukaan Pameran Pariwisata (Aloon-aloon)
* 19.00 Upacara Pembukaan Grebeg Suro 2011 & FRN XVIII (Panggung Utama Aloon-aloon)

22-26/11/11

* 15.00 Festival Reyog Nasional (Panggung Utama Aloon-aloon)
* 19.00 Festival Reyog Nasional (Panggung Utama Aloon-aloon)

24-25/12/11

* 08.00 Lomba Keagamaan (Aula Depag & Masjid Agung)

26/11/11

* 07.00 Ziarah Makam Bathoro Katong (Makam Bathoro Katong)
* 13.00 Kirab Pusaka, Lintas Sejarah, dan Pesona Wisata (Kota Lama ke Kota Baru)
* 16.00 Tumpeng Purak (Paseban Aloon-aloon)
* 19.00 Upacara Penutupan Grebeg Suro 2011 & FRN XVIII (Panggung Utama Aloon-aloon)
* 19.00 Hiburan Rakyat Musik Dangdut
* 22.00 Ketoprak (Panggung Utama Aloon-aloon)
* 22.00 Wayang Kulit (Hal. Kantor Camat Ponorogo)

27/11/11

* 08.00 Larungan (Telaga Ngebel)

JADWAL GREBEG SURO 2011

Minggu, 18 April 2010


[postlink]https://menthorzain.blogspot.com/2010/04/grebeg-suro-ponorogo.html[/postlink]
Grebeg Suro Kota Reog Ponorogo adalah sebuah acara rutin tahunan yang diadakan di alun-alun kota Ponorogo, sebuah kota yang berada sekitar 30 kilometer dari Madiun, arah Pacitan atau Wonogiri. Acara puncak Grebeg Suro adalah pada malam 1 Muharam pada penanggalan Hijriyah.

Ritual tahunan ini sudah ada sejak lama, bahkan ketika ibu saya masih anak-anak dan waktu itu masih tinggal di Ponorogo. Apa yang menarik dari acara Grebeg Suro di Ponorogo ini? Mulai dari siang hari, kota Ponorogo yang biasanya lumayan sepi menjadi sangat ramai sekali dengan kedatangan banyak tamu dari luar kota. Bahkan terkadang, mulai pukul 12:00 atau 14:00 sampai besok pagi, maka semua kendaraan dari luar kota sudah tidak diperkenankan untuk memasuki kota Ponorogo.

Untuk bisa masuk ke pusat kota atau alun-alun Ponorogo, maka biasanya perlu mencari beberapa jalur tikus sehingga nantinya akan dapat melewati beberapa penjagaan dan berhasil membawa kendaraan bermotor untuk dapat mencapai kota, setelah bisa masuk kota mau kemana-mana sudah bebas kecuali jika terjebak macet. Apakah mungkin kota sekecil Ponorogo juga mengalami kemacetan lalu lintas? tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, ketika ada acara Grebeg Suro maka hampir semua ruas jalan di Ponorogo menjadi penuh sesak dengan banyaknya orang berjalan kaki maupun kendaraan yang berlalu lalang, tanpa saya tahu tujuan mereka. Mungkin saja hanya untuk jalan-jalan menikmati macetnya kota.

Pada saat saya masih muda, hampir setiap tahun ketika acara Grebeg Suro berlangsung di Kota Reog Ponorogo, akan menyempatkan diri untuk pergi kesana sekedar untuk melaksanakan ritual ngopi dan “melekan” sambil melihat-lihat para pejalan kaki yang terus ada seperti sumber mata air yang tak pernah kering, bahkan sampai pagi menjelang. Alun-alun kota Ponorogo, sudah pasti penuh dengan lautan manusia, karena memang disitulah tempat dilaksanakannya puncak acara Grebeg Suro, dimana terdapat sebuah panggung yang akan dimeriahkan dengan banyak acara. Acara yang pasti ada dan paling meriah adalah adanya Festival Reog yang bukan hanya diikuti oleh peserta dari Ponorogo dan sekitarnya, tetapi ada juga peserta dari luar negeri. Bule pun ternyata ada yang bisa memainkan reyog.

Sebelum tahun 1990, orang berjalan kaki dari Madiun atau Wonogiri untuk berhasil mencapai alun-alun Ponorogo masih merupakan pemandangan yang sangat umum dan sangat tidak mengherankan. Tetapi sebagai generasi muda, saya rupanya tidak bisa melestarikan budaya jalan kaki tersebut dan lebih memilih untuk menggunakan kendaraan bermotor. Padahal saya juga pernah melakukan aksi jalan kaki yang tak kalah jauhnya yaitu ketika mengikuti Napak Tilas Pasukan Siliwangi mulai dari Sarangan sampai dengan Bendo, sebuah desa dibelakang Lanud Iswahyudi, Maospati.

Pada saat ada acara Grebeg Suro seperti ini, akan banyak muncul penjual kopi atau makanan kecil dadakan yang menggelar dagangan di halaman rumah mereka masing-masing, dan ini sangat membantu sekali bagi para tamu baik dari luar kota maupun warga Ponorogo sendiri yang ingin menikmati malam 1 Suro di Ponorogo karena kebanyakan warung yang ada di sekitar alun-alun sudah penuh sesak dengan konsumen. Walaupun akan lebih afdol jika “melekan” dilaksanakan di alun-alun Ponorogo sambil menikmati acara yang disajikan diatas panggung, diantaranya adalah Festival Reog, Musik dan akan ditutup dengan Pagelaran Wayang Wong atau Ketoprak, yang sudah sangat jarang bisa dinikmati secara langsung.

Bagi yang ingin menemukan gadis-gadis cantik sepanjang malam, kemungkinan itu juga sangat terbuka luas, karena pada acara Grebeg Suro Kota Reog Ponorogo, tidak ada yang tabu ketika ada seorang gadis keluar dari rumah sampai menjelang pagi. Tapi mohon untuk tidak berpikiran mesum atau pikiran negatif lain, ketika bertemu dengan gadis cantik Ponorogo, walaupun mereka keluar pada malam hari sampai menjelang pagi. Bahkan menurut ibu saya, pada saat Grebeg Suro, para gadis yang biasanya hanya ada didalam rumah ketika hari-hari biasa, pada saat ini akan diperbolehkan keluar untuk menikmati udara malam Ponorogo yang sangat meriah.

Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti sekarang, dimana beragam informasi dapat disajikan secara luas melalui internet dan dengan sudah semakin murah koneksi internet, maka saya yakin bahwa Acara Grebeg Suro di Kota Reog Ponorogo akan semakin meriah dan akan mendatangkan banyak wisatawan yang ingin melihat seperti apa keramaian dan kemeriahan Ponorogo menjelang pergantian Tahun Hijriyah, dan juga keramahanan yang disajikan oleh masyarakat Ponorogo.


Grebeg Suro Ponorogo

Sabtu, 17 April 2010


[postlink]https://menthorzain.blogspot.com/2010/04/arti-reog-ponorogo.html[/postlink]Kesenian adalah salah satu cara seseorang memasyarakat dan ekspresi seseorang untuk berhubungan dengan orang lain. Ekspresi seseorang dalam seni pertunjukkan memerlukan hadirnya orang lain dalam aktivitasnya.

Dalam kesenian masyarakat sederhana di masa lampau, sebuah tarian atau perilaku teatral sering dilakukan tanpa perlu adanya penonton. Hal ini dilakukan dalam hubungan pengertian komunikasi suku terhadap arwah-arwah nenek moyangnya (Sumardjo, h. 3). Tetapi dalam masyarat yang telah “tercemar” dengan peradaban luar, fungsi seni pertunjukkan itu kadang masih hidup atau kadang fungsinya berubah dari religius ke sekular, hanya sekedar tontonan.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu-Zain, 1994:1160), reog dikenal sebagai salah satu kesenian tradisional masyarakat dan merupakan tarian yang menghibur. Di pulau Jawa, misalnya reog termasuk seni tradisional rakyat untuk hiburan; dilakukan dalam bentuk tarian. Sedangkan di daerah Sunda, reog dikenal sebagai salah satu seni hiburan biasanya dilakukan oleh 4 orang, ada pemimpinnya dan masing-masing menyandang gendang itu dipukul-pukul; sifatnya humor dan mengundang sindiran-sindiran terhadap masyarakat

Pengertian dari reog ini juga ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua (Balai Pustaka, 1995 : 835). Reog adalah :

1. (jw) tarian tradisional dalam arena terbuka yang berfungsi sebagai hibura rakyat, mengandung unsur magis, penari utama adalah orang berkepala singa dengan hiasan bulu merak, ditambah beberapa penari bertopeng dan berkuda lumping yang semuanya laki-laki.
2. (sd) tontonan tradisional sebagai hiburan rakyat yang mengandung unsur humor-humor sindiran.

Latar Sejarah

Reog adalah sendratari tradisional yang berasal dan berkembang di kabupaten ponorogo, 28 km dari Madiun, Jawa Timur. Reog dapat segera dikenali dari irama gamelannya yang membangkitkan semangat, serta baunya yang menimbulkan rangsang & daya tarik. Biasanya pergelaran reog didukung oleh kekuatan mistik. Hal ini mengakibatkan pertunjukkannya kadang-kadang menyeramkan.

Tidak dapat dipastikan kapan reog ponorogo mulai ada. Namun kesenian rakyat ini dapat dikatakan sudah berusia tua karena disebut-sebut dalam prasasti kerajaan kanjuruhan (kini Malang) yang bertahun 760 M, yakni pada masa pemerintahan raja Gajayana. Kesenian ini juga tertulis dalam salahsatu prasasti kerajaan kediri dan jenggala yang bertahun 1045.

Ada beberapa versi legenda yang menyebutkan asal usul reog. Meski ada beberapa versi yang berlainan, ada satu kesamaan : reog merupakan sebuah tarian arakan cinta raja kerajaan wengker (kini Ponorogo) yang meminang putri kilisuci anak airlangga, raja kediri. Kisah ini diawali ketika prabu kelomo seandono, raja kerajaan wengker, jatuh cinta pada putri raja kediri. Kemudian ia mengutus senopati Bujang-Ganong beserta pasukan berkudaya ke kediri untuk meminang putri raja kediri. Di tengah perjalanan, utusan kerajaa wengker ini dihadang oleh pasukan merak dan harimau yang dipimpi Sungabarong, penguasa hutan ponorogo. Senopati Bujangganong beserta pasukkanya kalah dan kembali ke wengker. Akhisrnya, prabu kelono sewandono, raja wengker, memimpin sendiri pasukannya. Setelah singobarong kalah, ia bersedia membantu penguasa wengker meminang putri raja kediri. Diiringi tetabuhan, tari-tarian serta sorak-sorai kegembiraan para prajuritnya, melajulah prabu kelomo sewandono bersama singobarong menuju kediri untuk melamar putri kilisuci. Tetabuhan dan sorak sorai inilah yang kemudian berkembang menjadi musik pengiring reog.

Struktur Pertunjukannya

Kini reog biasa dimainkan dalam resepsi pernikahan, khitanan, atau juga untuk menyambut tamu agung. Kadang-kadang reog juga dimainkan pada perayaan-perayaan lain, misalnya pasar malam, taman hiburan, setiap minggu juga mempergelarkan reog. Perangkat musik reog sederhana. Irama melodi anehnya berasal dari bunyi terompet khusus yang disebut salompret bernada pelog diiringi rampak ketipung, kendang, ketuk, kenong, gong serta angklung yang bernada slendro. Nada-nada sumbang yang dihasilkan, yang merupakan panduan antara laras slendro dan pelog, menghasilkan suasanan mistik, aneh, sekaligus mempesona. Iramanya yang dinamis dan bergelora sangat mudah mengundang penonton untuk berkumpul.

Pakaian pemain reog serba hitam dengan ikat kepala yang disebut udeng. Bajunya berwarna hitam, longgar, tidak bercorak dan dipakai tanpa mengaitkan kancingnya sehingga dada pemakainya tampak jelas. Celananya yang sangat longgar juga berwarna hitam : panjangnya hanya sampai di bawah lutut. Celana ini dilengkapi ikat pinggang (koloran) berwarna putih.

Dalam iring-iringan pertunjukan, reog ponorogo biasanya terbagi dalam beberapa kelompok. Kekuatan pertunjukannya terletak pada pembagian kelompok yang masing-masing memilki fungsi sendiri tetapi saling melengkapi.

Kelompok pertama adalah kelompok pengawal atau kelompok pembuka, kelompok dengan sikap garang dan angkuh yang terdiri atas 3 sampai 4 orang bercelana panjang longgar hitam dengan kaus bergaris merah hitam;

Kelompok pendamping bertugas mengamankan situasi dan biasanya berada di sisi kanan kiri rombongan; Kelompok penari terdiri atas pemain barongan, pemain topeng, penari kuda kepang, serta penari dan pemain cadangan;

Kelompok pemukul gamelan yang lazimnya berada di belakang para penari terdiri atas peniup terompet, pemukul gendong dan gong, pemusik angklung, pemukul, ketuk kenong, pemukul ketipung serta 2 orang pemikul dan pemukul kempul; dan kelompok penggiring yang merupakan kelompok terbesar biasanya berada paling belakang untuk ikut menari, menyanyi dan bersorak sorai menghidupkan suasana. Ada 3 pelengkap utama yang biasanya menyertai pertunjukan reog yakni :

1. Barongan yang melambangkan harimau dan dhadhak merak yang melambangkan burung merak,

2. Topeng serta

3. Kuda kepang yang melambangkan binatang piaraan tunggangan manusia.

Ketiganya melambangkan karakter yang berbeda. Barongan dan dhadhak merak, yang selalu berpasangan sangat tenang, berwibawa meskipun angkuh. Singa bermahkota merak yang merupakan pasangan harimau dan merak menjadi ciri khas reog. Topeng yang selalu dikenakan bujangganong yang pandai berakrobat menimbulkan kesan lucu dengan geraknya yang lincah. Namun bila kuda kepang mulai beraksi, pertunjukan mulai menyeramkan karena unsur magisnya meskipun gaya kuda kepang ini cukup lunak dengan mimik mempesona yang memikat penonton. Sebagai sosok satria berkuda, penunggang kuda kepangnya diperankan oleh seorang anak laki-laki beraut manis yang disebut jatilan.

Dalam reog walaupun melambangkan sifat dan lakon yang berbeda – barongan dan dhadhak merak yang tingginya mencapai 3 meter dalam wujudnya adalah satu. Keduanya berwujud kepala harimau dengan mahkota ekor merak yang bobotnya mencapai 70 kg ini lazimnya dipakai di kepala pemain dengan cara digigit. Tetapi dalam permainan kucing tikus untuk mengurangi bobotnya, ekor merak yang sangat lebar ini dilepas sehingga gerakan barongan menjadi lebih lincah. Topeng menjadi tikus, sedangkan barongan adalah kucingnya.

Reog ponorogo memiliki 3 wujud topeng, yakni topeng hewan, topeng manusia dan topeng raksasa. Topeng barongan adalah topeng hewan, sedangkan topeng bujangganong, topeng berwujud raksasa dengan dahi mengganong (menjorok) adalah topeng raksasa. Warna topeng raksasa ini merah tua atau hitam, matanya melotot, rambutnya panjang ke depan, serta hidungnya besar dan panjang. Yang merupakan topeng manusia adalah topeng kelono. Topeng berambut panjang ini memerankan prabu kelono sewandono.

Gerak kuda kepang sangat lincah. Jatilan, penunggang kuda kepang adalah anak laki-laki, biasanya berwajah manis dan harus belum menikah. Dalam sendratari rakyat ini terdapat hubungan erat yang aneh antara pemborong (pemain barongan) dan jatilan (pemain kuda kepang yang disebut juga gemblak). Hubungan mereka mirip hubungan laki-laki dan wanita. Pemain barongan biasanya sangat kekar, kuat dan menguasai para gemblak. Dahulu tak jarang terjadi pertarungan antara satuan reog untuk memperebutkan gemblak. Karena itu jatilan biasanya selalu mendapat perlindungan khusus. Dalam iring-iringan reog, jatilan selalu berada di barisan paling depan.

Jatilan sudah amat tua usianya. Mungkin sudah ada sejak zaman prasejarah Indonesia. Upacara pemujaan kuda (totemisme) ini dahulu dilakukan oleh hanya dua orang saja yang menunggang kuda-kudaan dari anyaman bambu. Penunggang kuda dibuat kesurupan atau in trance sehingga berlaku sebagai kuda, yakni dicambuki, diberi makan rumput, makan padi dan daun-daunan lain kegemaran seekor kuda. Dengus si penari pun seperti kuda.

Penafsiran Reog Ponorogo

Reog berupa tokoh binatang mitologi yang digambarkan berkepala singa dan bermahkota gunungan. Tokoh binatang mitologi ini bisa diurut dari masyarakat mesolitik. Seni teater yang mula-mula berupa seni ekspresi-komunikasi masyarakat mesolitik yang berburu dan semi masyarakat neolitik yang agraris. Sisa-sisa terbesar dari masyarakat mesolitik (berburu sebagai mata pencaharian hidup yang utama) selalu menghadapi tantangan-tantangan hidup yang spesifik berburu binatang, ikan, ubi-ubian dan lain-lain, di samping juga perebutan antar kelompok dalam memperebutkan wilayah perburuan serta menghadapi bahaya-bahaya alam dan wabah penyakit. Obsesi hidup masyarakat demikian itu tertuju pada kesulitan-kesulitan perburuannya, sehingga idiom-idiom teater mereka juga tidak jauh dari perilaku sehari-hari yang berburu di hutan atau nelayan di pantai. Seni pertunjukkan mereka yang didasari oleh obsesi religius terhadap tantangan kehidupan mereka akan menunjukkan ciri-ciri khas yang bersumber dari kehidupan yang mereka kenal. Tidak mengherankan apabila seni tari mereka menunjukkan imitasi tingkah binatang, binatang air atau gerak alam yang buas.

Dalam sendratari rakyat ini terdapat hubungan erat yang aneh antara pemborong (pemain barongan) dan jatilan (pemain kuda kepang yang disebut juga gemblak). Hubungan mereka mirip hubungan laki-laki dan wanita. Pola yang ada dalam sendratari in adalah pola dua, pasangan-pasangan oposisi substansial lebih menekankan “pertentangan” dari pada “komplementer”, meskipun disadari makna saling melengkapi.

Upacara pemujaan kuda (totemisme), penunggang kuda dibuat kesurupan atau in trance sehingga berlaku sebagai kuda, yakni dicambuki, diberi makan rumput, makan padi dan daun-daunan lain kegemaran seekor kuda. Dengus si penari pun seperti kuda. Hadirnya roh (non material) dalam material, jiwa dalam badan jatilan merupakan simbol paradoks. Yang paradoks itu berupa bersatunya dua unsur yang saling bertentangan. Semua kehadiran dualistik ini saling membelakangi atau berhadapan hadir dalam satu kesatuan. Yang disebut “ada” itu paradoksal.

Kesenian teater tradisional, termasuk reog pada masyarakat religi asli difungsikan sebagai :

1. pemanggil kekuatan gaib
2. menjemput roh-roh pelindung untuk hadir di tempat terselenggaranya pertunjukkan
3. memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat
4. peringatan pada nenek moyang dengan mempertontonkan kegagahan maupun
kepahlawannya
5. pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang
6. pelengkap upacara untuk saat-saat tertentu dalam siklus waktu

Fungsi-fungsi ini beberapa diantaranya masih akan terus hidup tetapi bila reog ini difungsikan diluar upacara, semuanya hanya mempunyai nilai profan saja.

Tarian dalam upacara ini dilakukan sebagai wujud partisipasi dalam aturan kosmos itu sehingga hidupnya menjadi otentik dan bernilai. Untuk mengungkapkan kepercayaan itu, manusia memakai lambang-lambang dan tanda, berupa mitos dan ritus. Mitos berupa cerita yang menafsirkan makna hidup berdasarkan kejadian purba (asal usul masyarakat atau padi memberikan petunjuk bagaimana manusia harus berkelakuan sesuai dengan kosmos). Sedang ritus adalah kelakuan simbolik yang mengkonsolidasikan atau memulihkan tata alam dan menempatkan manusia dalam tata alam tersebut. Ritus ini punya banyak bentuk, seperti menceritakan kembali mitos asal, mementaskan kembali cerita mitos, upacara, selametan, korban dan sebagainya.
Kadang manusia modern mencampuradukkan saja mana yang harus dan mana yang tabu. Pola-pola seni seenaknya digunakan bagi keperluan modern, hanya demi estetika belaka. Orang sudah tidak tahu “apa yang harus” dan “apa yang tidak boleh”.


Arti Reog Ponorogo

 

Bottom 1

Bottom 2

Bottom 3