Sabtu, 17 April 2010


Arti Reog Ponorogo



[postlink]http://menthorzain.blogspot.com/2010/04/arti-reog-ponorogo.html[/postlink]Kesenian adalah salah satu cara seseorang memasyarakat dan ekspresi seseorang untuk berhubungan dengan orang lain. Ekspresi seseorang dalam seni pertunjukkan memerlukan hadirnya orang lain dalam aktivitasnya.

Dalam kesenian masyarakat sederhana di masa lampau, sebuah tarian atau perilaku teatral sering dilakukan tanpa perlu adanya penonton. Hal ini dilakukan dalam hubungan pengertian komunikasi suku terhadap arwah-arwah nenek moyangnya (Sumardjo, h. 3). Tetapi dalam masyarat yang telah “tercemar” dengan peradaban luar, fungsi seni pertunjukkan itu kadang masih hidup atau kadang fungsinya berubah dari religius ke sekular, hanya sekedar tontonan.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu-Zain, 1994:1160), reog dikenal sebagai salah satu kesenian tradisional masyarakat dan merupakan tarian yang menghibur. Di pulau Jawa, misalnya reog termasuk seni tradisional rakyat untuk hiburan; dilakukan dalam bentuk tarian. Sedangkan di daerah Sunda, reog dikenal sebagai salah satu seni hiburan biasanya dilakukan oleh 4 orang, ada pemimpinnya dan masing-masing menyandang gendang itu dipukul-pukul; sifatnya humor dan mengundang sindiran-sindiran terhadap masyarakat

Pengertian dari reog ini juga ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua (Balai Pustaka, 1995 : 835). Reog adalah :

1. (jw) tarian tradisional dalam arena terbuka yang berfungsi sebagai hibura rakyat, mengandung unsur magis, penari utama adalah orang berkepala singa dengan hiasan bulu merak, ditambah beberapa penari bertopeng dan berkuda lumping yang semuanya laki-laki.
2. (sd) tontonan tradisional sebagai hiburan rakyat yang mengandung unsur humor-humor sindiran.

Latar Sejarah

Reog adalah sendratari tradisional yang berasal dan berkembang di kabupaten ponorogo, 28 km dari Madiun, Jawa Timur. Reog dapat segera dikenali dari irama gamelannya yang membangkitkan semangat, serta baunya yang menimbulkan rangsang & daya tarik. Biasanya pergelaran reog didukung oleh kekuatan mistik. Hal ini mengakibatkan pertunjukkannya kadang-kadang menyeramkan.

Tidak dapat dipastikan kapan reog ponorogo mulai ada. Namun kesenian rakyat ini dapat dikatakan sudah berusia tua karena disebut-sebut dalam prasasti kerajaan kanjuruhan (kini Malang) yang bertahun 760 M, yakni pada masa pemerintahan raja Gajayana. Kesenian ini juga tertulis dalam salahsatu prasasti kerajaan kediri dan jenggala yang bertahun 1045.

Ada beberapa versi legenda yang menyebutkan asal usul reog. Meski ada beberapa versi yang berlainan, ada satu kesamaan : reog merupakan sebuah tarian arakan cinta raja kerajaan wengker (kini Ponorogo) yang meminang putri kilisuci anak airlangga, raja kediri. Kisah ini diawali ketika prabu kelomo seandono, raja kerajaan wengker, jatuh cinta pada putri raja kediri. Kemudian ia mengutus senopati Bujang-Ganong beserta pasukan berkudaya ke kediri untuk meminang putri raja kediri. Di tengah perjalanan, utusan kerajaa wengker ini dihadang oleh pasukan merak dan harimau yang dipimpi Sungabarong, penguasa hutan ponorogo. Senopati Bujangganong beserta pasukkanya kalah dan kembali ke wengker. Akhisrnya, prabu kelono sewandono, raja wengker, memimpin sendiri pasukannya. Setelah singobarong kalah, ia bersedia membantu penguasa wengker meminang putri raja kediri. Diiringi tetabuhan, tari-tarian serta sorak-sorai kegembiraan para prajuritnya, melajulah prabu kelomo sewandono bersama singobarong menuju kediri untuk melamar putri kilisuci. Tetabuhan dan sorak sorai inilah yang kemudian berkembang menjadi musik pengiring reog.

Struktur Pertunjukannya

Kini reog biasa dimainkan dalam resepsi pernikahan, khitanan, atau juga untuk menyambut tamu agung. Kadang-kadang reog juga dimainkan pada perayaan-perayaan lain, misalnya pasar malam, taman hiburan, setiap minggu juga mempergelarkan reog. Perangkat musik reog sederhana. Irama melodi anehnya berasal dari bunyi terompet khusus yang disebut salompret bernada pelog diiringi rampak ketipung, kendang, ketuk, kenong, gong serta angklung yang bernada slendro. Nada-nada sumbang yang dihasilkan, yang merupakan panduan antara laras slendro dan pelog, menghasilkan suasanan mistik, aneh, sekaligus mempesona. Iramanya yang dinamis dan bergelora sangat mudah mengundang penonton untuk berkumpul.

Pakaian pemain reog serba hitam dengan ikat kepala yang disebut udeng. Bajunya berwarna hitam, longgar, tidak bercorak dan dipakai tanpa mengaitkan kancingnya sehingga dada pemakainya tampak jelas. Celananya yang sangat longgar juga berwarna hitam : panjangnya hanya sampai di bawah lutut. Celana ini dilengkapi ikat pinggang (koloran) berwarna putih.

Dalam iring-iringan pertunjukan, reog ponorogo biasanya terbagi dalam beberapa kelompok. Kekuatan pertunjukannya terletak pada pembagian kelompok yang masing-masing memilki fungsi sendiri tetapi saling melengkapi.

Kelompok pertama adalah kelompok pengawal atau kelompok pembuka, kelompok dengan sikap garang dan angkuh yang terdiri atas 3 sampai 4 orang bercelana panjang longgar hitam dengan kaus bergaris merah hitam;

Kelompok pendamping bertugas mengamankan situasi dan biasanya berada di sisi kanan kiri rombongan; Kelompok penari terdiri atas pemain barongan, pemain topeng, penari kuda kepang, serta penari dan pemain cadangan;

Kelompok pemukul gamelan yang lazimnya berada di belakang para penari terdiri atas peniup terompet, pemukul gendong dan gong, pemusik angklung, pemukul, ketuk kenong, pemukul ketipung serta 2 orang pemikul dan pemukul kempul; dan kelompok penggiring yang merupakan kelompok terbesar biasanya berada paling belakang untuk ikut menari, menyanyi dan bersorak sorai menghidupkan suasana. Ada 3 pelengkap utama yang biasanya menyertai pertunjukan reog yakni :

1. Barongan yang melambangkan harimau dan dhadhak merak yang melambangkan burung merak,

2. Topeng serta

3. Kuda kepang yang melambangkan binatang piaraan tunggangan manusia.

Ketiganya melambangkan karakter yang berbeda. Barongan dan dhadhak merak, yang selalu berpasangan sangat tenang, berwibawa meskipun angkuh. Singa bermahkota merak yang merupakan pasangan harimau dan merak menjadi ciri khas reog. Topeng yang selalu dikenakan bujangganong yang pandai berakrobat menimbulkan kesan lucu dengan geraknya yang lincah. Namun bila kuda kepang mulai beraksi, pertunjukan mulai menyeramkan karena unsur magisnya meskipun gaya kuda kepang ini cukup lunak dengan mimik mempesona yang memikat penonton. Sebagai sosok satria berkuda, penunggang kuda kepangnya diperankan oleh seorang anak laki-laki beraut manis yang disebut jatilan.

Dalam reog walaupun melambangkan sifat dan lakon yang berbeda – barongan dan dhadhak merak yang tingginya mencapai 3 meter dalam wujudnya adalah satu. Keduanya berwujud kepala harimau dengan mahkota ekor merak yang bobotnya mencapai 70 kg ini lazimnya dipakai di kepala pemain dengan cara digigit. Tetapi dalam permainan kucing tikus untuk mengurangi bobotnya, ekor merak yang sangat lebar ini dilepas sehingga gerakan barongan menjadi lebih lincah. Topeng menjadi tikus, sedangkan barongan adalah kucingnya.

Reog ponorogo memiliki 3 wujud topeng, yakni topeng hewan, topeng manusia dan topeng raksasa. Topeng barongan adalah topeng hewan, sedangkan topeng bujangganong, topeng berwujud raksasa dengan dahi mengganong (menjorok) adalah topeng raksasa. Warna topeng raksasa ini merah tua atau hitam, matanya melotot, rambutnya panjang ke depan, serta hidungnya besar dan panjang. Yang merupakan topeng manusia adalah topeng kelono. Topeng berambut panjang ini memerankan prabu kelono sewandono.

Gerak kuda kepang sangat lincah. Jatilan, penunggang kuda kepang adalah anak laki-laki, biasanya berwajah manis dan harus belum menikah. Dalam sendratari rakyat ini terdapat hubungan erat yang aneh antara pemborong (pemain barongan) dan jatilan (pemain kuda kepang yang disebut juga gemblak). Hubungan mereka mirip hubungan laki-laki dan wanita. Pemain barongan biasanya sangat kekar, kuat dan menguasai para gemblak. Dahulu tak jarang terjadi pertarungan antara satuan reog untuk memperebutkan gemblak. Karena itu jatilan biasanya selalu mendapat perlindungan khusus. Dalam iring-iringan reog, jatilan selalu berada di barisan paling depan.

Jatilan sudah amat tua usianya. Mungkin sudah ada sejak zaman prasejarah Indonesia. Upacara pemujaan kuda (totemisme) ini dahulu dilakukan oleh hanya dua orang saja yang menunggang kuda-kudaan dari anyaman bambu. Penunggang kuda dibuat kesurupan atau in trance sehingga berlaku sebagai kuda, yakni dicambuki, diberi makan rumput, makan padi dan daun-daunan lain kegemaran seekor kuda. Dengus si penari pun seperti kuda.

Penafsiran Reog Ponorogo

Reog berupa tokoh binatang mitologi yang digambarkan berkepala singa dan bermahkota gunungan. Tokoh binatang mitologi ini bisa diurut dari masyarakat mesolitik. Seni teater yang mula-mula berupa seni ekspresi-komunikasi masyarakat mesolitik yang berburu dan semi masyarakat neolitik yang agraris. Sisa-sisa terbesar dari masyarakat mesolitik (berburu sebagai mata pencaharian hidup yang utama) selalu menghadapi tantangan-tantangan hidup yang spesifik berburu binatang, ikan, ubi-ubian dan lain-lain, di samping juga perebutan antar kelompok dalam memperebutkan wilayah perburuan serta menghadapi bahaya-bahaya alam dan wabah penyakit. Obsesi hidup masyarakat demikian itu tertuju pada kesulitan-kesulitan perburuannya, sehingga idiom-idiom teater mereka juga tidak jauh dari perilaku sehari-hari yang berburu di hutan atau nelayan di pantai. Seni pertunjukkan mereka yang didasari oleh obsesi religius terhadap tantangan kehidupan mereka akan menunjukkan ciri-ciri khas yang bersumber dari kehidupan yang mereka kenal. Tidak mengherankan apabila seni tari mereka menunjukkan imitasi tingkah binatang, binatang air atau gerak alam yang buas.

Dalam sendratari rakyat ini terdapat hubungan erat yang aneh antara pemborong (pemain barongan) dan jatilan (pemain kuda kepang yang disebut juga gemblak). Hubungan mereka mirip hubungan laki-laki dan wanita. Pola yang ada dalam sendratari in adalah pola dua, pasangan-pasangan oposisi substansial lebih menekankan “pertentangan” dari pada “komplementer”, meskipun disadari makna saling melengkapi.

Upacara pemujaan kuda (totemisme), penunggang kuda dibuat kesurupan atau in trance sehingga berlaku sebagai kuda, yakni dicambuki, diberi makan rumput, makan padi dan daun-daunan lain kegemaran seekor kuda. Dengus si penari pun seperti kuda. Hadirnya roh (non material) dalam material, jiwa dalam badan jatilan merupakan simbol paradoks. Yang paradoks itu berupa bersatunya dua unsur yang saling bertentangan. Semua kehadiran dualistik ini saling membelakangi atau berhadapan hadir dalam satu kesatuan. Yang disebut “ada” itu paradoksal.

Kesenian teater tradisional, termasuk reog pada masyarakat religi asli difungsikan sebagai :

1. pemanggil kekuatan gaib
2. menjemput roh-roh pelindung untuk hadir di tempat terselenggaranya pertunjukkan
3. memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat
4. peringatan pada nenek moyang dengan mempertontonkan kegagahan maupun
kepahlawannya
5. pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang
6. pelengkap upacara untuk saat-saat tertentu dalam siklus waktu

Fungsi-fungsi ini beberapa diantaranya masih akan terus hidup tetapi bila reog ini difungsikan diluar upacara, semuanya hanya mempunyai nilai profan saja.

Tarian dalam upacara ini dilakukan sebagai wujud partisipasi dalam aturan kosmos itu sehingga hidupnya menjadi otentik dan bernilai. Untuk mengungkapkan kepercayaan itu, manusia memakai lambang-lambang dan tanda, berupa mitos dan ritus. Mitos berupa cerita yang menafsirkan makna hidup berdasarkan kejadian purba (asal usul masyarakat atau padi memberikan petunjuk bagaimana manusia harus berkelakuan sesuai dengan kosmos). Sedang ritus adalah kelakuan simbolik yang mengkonsolidasikan atau memulihkan tata alam dan menempatkan manusia dalam tata alam tersebut. Ritus ini punya banyak bentuk, seperti menceritakan kembali mitos asal, mementaskan kembali cerita mitos, upacara, selametan, korban dan sebagainya.
Kadang manusia modern mencampuradukkan saja mana yang harus dan mana yang tabu. Pola-pola seni seenaknya digunakan bagi keperluan modern, hanya demi estetika belaka. Orang sudah tidak tahu “apa yang harus” dan “apa yang tidak boleh”.


0 komentar:

Poskan Komentar

 

Bottom 1

Bottom 2

Bottom 3